Setelah Tiga Tahun Lebih Bersama

Setelah tiga tahun lebih bersama…

Aku merasa 19 Februari 2014 merupakan hari paling bersejarah dalam hidupku. Setelah 10 Juni 1992 tentunya. Sebelum hari bersejarah itu, aku telah lebih dulu mengenal sebuah senyuman. Senyum yang mengantarkanku pada muara masa depan. Senyum yang mengembang dari empunya lalu bereaksi sempurna untuk membuatku  terpesona setiap waktu tanpa sekalipun merasa jenuh. Sepertinya itu senyum terindah yang pernah ku lihat. Semangatku untuk menjumpai senyum itu lagi dan lagi mengganda berlipat-lipat. Hari-hari ku songsong dengan semangat hanya untuk menjumpainya. O, aku benar-benar luluh.

Setelah tiga tahun lebih bersama…

Kini, meskipun aku sudah memiliki senyuman itu, tetap saja aku bergidik gemetar ketika hendak dan sedang berpapasan dengannya. Kala hendak bertamu ke rumahnya, kakiku berulang kali bergerak mundur. Keluh. Takut. Malu. Gerogi. Saat melihatnya lewat di depan perpustakaan kampus, mulutku keluh untuk menyapanya. Mendadak aku gagap. Aku harus menghabiskan bergelas-gelas cairan terlebih dahulu sebelum aku berhasil menyapanya dengan cara menyusulnya ke gedung pustaka. Di bandara, ketika momen pertemuan dengannya sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, aku malah hang. Dikeramaian bandara, aku merasa seperti sedang tersesat di belantara hutan. Pertemuan yang seharusnya aku abadikan menggunakan gawai, malah gagal berantakan. Gawai itu malah merekam antah-barantah. Tak secuil pun senyum itu terekam kamera. O, separah ini aku jatuh cinta. (lebih…)

Iklan

Obituari: Kenangan Simbok

Hari ini, Sabtu (17/9), hari keenam Simbok meninggal dunia. Malam nanti merupakan malam ketujuh. Sejauh ini, dan seterusnya, doa-doa akan selalu kami panjatkan agar Simbok mendapat kelapangan di sisiNya.

Minggu siang kemarin (11/9), hapeku berdering cukup sering. Deringan hape tersebut tak bersambut dari pemiliknya. Pasalnya si pemilik gawai sedang pergi dan gawai dibiarkan tergeletak di sudut kamar. Beberapa jam kemudian baru didapati ada lima panggilan tak terjawab dari bapak. Sepagi itu biasa, baik aku atau pun bapak, saling berkabar. Biasa juga apabila tidak terjawab. Karena keduanya sudah larut dalam pekerjaan masing-masing. Apabila ada panggilan tak terjawab, kami sudah mahfum. (lebih…)

Toleransi

Seorang pimpinan perusahaan berpesan kepada saya, “Nanti ketika lebaran, tanggal 6-7 perusahaan akan tetap bekerja. Mekanik pagi cukup cek-cek unit, kalau tidak ada masalah silahkan kalau mau menunaikan shalat ied,” kata bapak itu sambil memasukkan kacang ke dalam mulutnya. “Tolong kamu sampaikan ke mekanik ya,” lanjutnya.

Mendengar itu, saya sedikit bingung dan kaget. Pasalnya, baru beberapa hari yang lalu dia berpesan kepada saya, bahwasannya perusahaan akan menyetop produksi dua hari selama lebaran. Kabar beberapa hari itu tentu melegakan bagi kawan-kawan saya yang tidak mendapat jatah cuti. Karena meskipun tidak mendapat jatah cuti, mereka akan tetap bisa pulang ke rumah masing-masing selama dua hari dengan cara meminta izin. (lebih…)

Orang-orang yang Mati Karena Masa Lalu

Di sini—di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan manusia lainnya, ada generasi yang apabila mengenang masa lalu akan mati. Tiba-tiba mati tanpa ada gejala stroke atau pun demam tinggi. Karena mati akibat mengenang masa lalu susah atau bahkan tidak dapat diidentifikasi, akhirnya angka kematian terus bertambah tanpa ada pencegahan. Kematian bak jamur di musim penghujan. Setiap hari selalu ada kabar orang yang mati.

Aku bergidik mendengar pembukaan cerita dari seorang tua itu. Orang tua yang sejak lama aku incar untuk diwawancarai karena perilakuknya yang terbilang aneh. Aku tak sengaja pernah melihatnya melintasi rel kereta api di belakang mall lima lantai itu. Saat itu aku tengah memotret sebuah jembatan kereta api yang melintasi sungai selebar lima puluhan meter. Ia menyeberangi rel kereta dengan terkencat-kencat. Tangan kanannya memegang tongkat kayu sedangkan tangan kirinya ku perhatikan menutup hidung dan mulut rapat-rapat. (lebih…)

Perjuangan Menghadapi Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

Tidak semua orang, termasuk saya tentunya, memiliki rasa percaya diri seperti yang dimiliki Amir Khan. Kenal Amir kan? Itu lho, bintang Bollywood yang gantengnya sudah terkonfirmasi oleh cewek-cewek seantero dunia. Dalam suatu adegan film 3 Idiot, belio pernah dengan lahapnya menyantap ladoo (manisan khas India) meskipun tengah diomeli ibu dari temannya yang juga kebetulan saat itu sedang menangis. Pernah juga Amir nekat masuk ke pesta perkawinan orang yang sama sekali tidak ia kenali. Sudah begitu, Si Amir tetap bisa ngeles meskipun sudah kepergok oleh si empuh pesta pernikahan.

Benar-benar, menurut saya, tingkat rasa percaya diri level top! (lebih…)

(Bukan) Ucapan Selamat

“Ayolah!”

“Apa?”

“Tak bisakah barang sebentar saja kantukmu itu kau tahan,” kau memulai kenyiyiran dini hari dengan tanpa aba-aba, “O iya, lebih tepatnya kantuk yang kau buat-buat sebelum akhirnya benar saja kau tertidur.”

“Hahaa…”

“Kau itu pembual!”

“Apa katamu?”

“Keparat!” (lebih…)

Dalam Jalan Menemui Kerinci

 

            Saat kau sedang berada di bawah, di kaki tebing dan kau melihat ke atas, kau akan bertanya pada dirimu sendiri: bagaimana bisa orang mencapai puncak itu? Mengapa ada orang bahkan menginginkannya? Namun beberapa jam kemudian saat kau sudah di puncak, terus melihat ke bawah, kau akan melupakan segalanya. (Andi Hinterstoisser)

6

27 Desember 2015

Sepeda Motor Vixion hitam sedang melaju kencang melintas aspal yang membungkus jalan lintas tengah Sumatera. Aspal yang rancak dan jalan yang lurus membuat Rian, si pengendara, asyik menarik tali gas mesin. Sementara saya yang dibonceng merasa nyaman-nyaman saja dengan menggendong carrier. Hanya saja harus berkali-kali menggeser pantat yang kian terasa nyeri karena sudah terlalu lama duduk di jok motor.

Di depan sebuah rumah makan yang terletak di daerah antara Lubuk Linggau (Sumsel) dan Sarolangun (Jambi), tiba-tiba sebuah truk besar berbelok ke arah kanan. Tepat saat kendaraan kami melaju kencang. Tanpa menyalakan lampu aba-aba, truk tersebut sudah hampir melintang di jalan. Hanya tersisa sedikit ruas jalan yang bisa dilewati motor yang kami kendarai.

             Wusshhhhh….

Suara itu mendengung di kuping saya yang sudah tertutup helmet. Pinggang saya terasa nyeri karena reflek menghindari truk. Dan siku kiri saya terasa sakit karena sempat menyenggol bagian kepala truk. Jantung saya berdetak cepat. Sontak saya langsung menyadari bahwa baru saja terhindar dari bahaya besar. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya apabila kecepatan motor yang kami kendarai itu berkurang seper sekian detik saja. Atau laju truk tersebut sedikit lebih cepat dari motor kami. Saya berkali-kali menyebut nama Tuhan.

“Bro, jangan hilang fokus. Kita mau cari happy bukan cari mati,” saya coba untuk mengingatkan Rian, agar tidak mengikuti ritme jalan yang menggoda. Dan tentu saja mengingatkan diri sendiri, karena kami saling bergantian membonceng.

Melintasi jalur lintas tengah Sumatera dengan kecepatan tinggi sebenarnya memang suatu keharusan. Apalagi bagi pengendara yang hanya sesekali melintas seperti kami. Selain karena jalan yang mulus, sehingga menggoda pengendara untuk memacu mesin lebih cepat, aksi kriminalitas masih seringkali terjadi di daerah tersebut. Sebut saja di daerah Muara Rupit, Singkut dan Sarolangun. Dari cerita yang sering saya dengar, pengendara sepeda motor sebaiknya menghindari berkendara pada malam hari di kawasan tersebut. Hal itu untuk menghindari kejahatan semacam begal dan pungutan paksa (palak). Jangankan sepeda motor, mobil saja seringkali diberhentikan secara paksa. (kami pun mengalaminya pada saat jalan pulang. Diberhentikan secara paksa dan dipalak preman. Beruntung kami selamat dengan hanya mengorbankan uang 50 ribu). (lebih…)