Hidup di Era The Hunger Games

Pernahkah Anda berpikiran seperti ini: akan ada zaman seperti apa pasca kehadiran ojol yang katanya solusi agar hidup kita lebih efisien? Akankah kita nanti merindukan pergi makan malam bersama dengan teman sejawat dengan menggunakan angkot lalu bercerita banyak hal di meja makan? Atau kemudian kita bosan begitu saja dengan kemudah-kemudahan yang disuguhkan itu, lalu dengan sukarela kita memilih untuk membeli makanan sendiri ke warung makan favorit dan  berlanjut dengan obrolan-obrolan singkat dengan pemilik warung tentang resep menu masakan yang kita sukai

Pikiran seperti itu terbersit di kepala tepat saat driver ojol tiba untuk mengantarkan saya ke tempat tujuan. Bahkan tulisan ini sebagian saya ketik di belakang pak driver yang sedang fokus mengemudi. Barangkali kegelisahan ini tidak serta merta hinggap di kepala saya. Sepertinya kenaikan tarif yang diberlakukan sejak satu September kemarin telah memantiknya, sehingga menjadi kegelisahan bagi saya. (lebih…)

Iklan

Quarter Life Crisis

WhatsApp Image 2019-07-24 at 9.55.12 PM

Seberapapun usiamu saat ini, itu tidak layak untuk diratapi. Lebih baik dari itu, sebaiknya kita (saya menyebut kita karena dimomen-momen tertentu, saya kerap menggalaui perihal siklus usia ini) mulai menyusun agenda sederhana untuk merayakan setiap usia yang bertambah dari hari ke hari. Bisa dengan cara yang paling sederhana: mengajak berbicara orang di sekitar kita. Siapapun itu lawan bicaranya, mendengarkan setiap cerita mereka tidak akan membuat kita rugi. Lebih dari itu, akan menambah khasanahmu perihal kehidupan. Atau sesekali kamu bisa juga berbagi pengalaman konyol atau lucu dengannya. Itu juga akan membuatmu lebih mengerti bahwasannya hidup itu tidak harus dijalani dengan serius dan tegang. Toh semuanya akan dilalui dan ditertawai pada masanya.

Ketahuilah, selain teramat panjang, lead tulisan di atas tidak terlalu berkesinambungan dengan keseluruhan tulisan saya ini. Hehehehe!

Baiklah, saya mulai saja. (lebih…)

Menuju Amesiu

Amisu

Selalu ada tempat baru untuk kita singgah. Tapi hanya ada satu tempat untuk kita pulang, yaitu rumah.

Buritan kapal berdenyit-denyit. Seperti bersahutan dengan sabda laut di pagi hari. Aku terbangun gigil dari tumpukan-tumpukan barang yang ada di buritan kapal. Badanku terasa pegal. Kakiku sedikit ngilu. Sepertinya itu resiko yang harus ku terima, setelah tadi malam aku memilih tidur di bangku tidak presisi yang membuat aku harus melipat kaki agar tidak menggantung. (lebih…)

PULANG

Cuti kerja atau rehat sejenak dari kesibukan dunia yang secara tak sadar membakar sisa hidup kali ini terasa amat panjang. Dari Lamore yang terletak di pedalaman Sulawesi Tenggara menuju Kendari memakan waktu kurang lebih lima jam. Itu pun karena perjalanan ditempuh pada malam hari. Sehingga tidak terlalu banyak kendaraan berlalu-lalang. Kalau siang, mungkin perjalanan akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Mengingat juga jalan lintas yang menghubungkan antara Sulawesi Tenggara dengan Sulawesi Tengah tersebut masih banyak jalan yang rusak.

Siang itu cuaca terik. Biru laut Desa Lamore berkilau-kilau seolah sedang bergairah menerima puncak panas bulan Maret. Aroma asin air laut semerbak menghambur terbawa angin kencang ke seantero desa yang berpenghuni sekitar 100 kepala keluarga itu. Laut di Desa Lamore dikelilingi banyak pulau-pulau kecil. Meskipun diterpa angin kencang, ombaknya tidak terlalu bergelombang. Hanya riak-riak kecil saja. Di tepi laut, banyak rumah-rumah warga dan pohon kelapa. Antara rumah warga dengan laut hampir tidak berbatas. Sebagian warga yang memilih konsep bangunan rumah berbahan kayu, harus rela setengah tiang bangunan rumahnya terendam air laut. Hanya kala pagi saja, disaat laut surut, rumah-rumah tersebut bebas dari rendaman air. (lebih…)

Setelah Tiga Tahun Lebih Bersama

Setelah tiga tahun lebih bersama…

Aku merasa 19 Februari 2014 merupakan hari paling bersejarah dalam hidupku. Setelah 10 Juni 1992 tentunya. Sebelum hari bersejarah itu, aku telah lebih dulu mengenal sebuah senyuman. Senyum yang mengantarkanku pada muara masa depan. Senyum yang mengembang dari empunya lalu bereaksi sempurna untuk membuatku  terpesona setiap waktu tanpa sekalipun merasa jenuh. Sepertinya itu senyum terindah yang pernah ku lihat. Semangatku untuk menjumpai senyum itu lagi dan lagi mengganda berlipat-lipat. Hari-hari ku songsong dengan semangat hanya untuk menjumpainya. O, aku benar-benar luluh.

Setelah tiga tahun lebih bersama…

Kini, meskipun aku sudah memiliki senyuman itu, tetap saja aku bergidik gemetar ketika hendak dan sedang berpapasan dengannya. Kala hendak bertamu ke rumahnya, kakiku berulang kali bergerak mundur. Keluh. Takut. Malu. Gerogi. Saat melihatnya lewat di depan perpustakaan kampus, mulutku keluh untuk menyapanya. Mendadak aku gagap. Aku harus menghabiskan bergelas-gelas cairan terlebih dahulu sebelum aku berhasil menyapanya dengan cara menyusulnya ke gedung pustaka. Di bandara, ketika momen pertemuan dengannya sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, aku malah hang. Dikeramaian bandara, aku merasa seperti sedang tersesat di belantara hutan. Pertemuan yang seharusnya aku abadikan menggunakan gawai, malah gagal berantakan. Gawai itu malah merekam antah-barantah. Tak secuil pun senyum itu terekam kamera. O, separah ini aku jatuh cinta. (lebih…)

Obituari: Kenangan Simbok

Hari ini, Sabtu (17/9), hari keenam Simbok meninggal dunia. Malam nanti merupakan malam ketujuh. Sejauh ini, dan seterusnya, doa-doa akan selalu kami panjatkan agar Simbok mendapat kelapangan di sisiNya.

Minggu siang kemarin (11/9), hapeku berdering cukup sering. Deringan hape tersebut tak bersambut dari pemiliknya. Pasalnya si pemilik gawai sedang pergi dan gawai dibiarkan tergeletak di sudut kamar. Beberapa jam kemudian baru didapati ada lima panggilan tak terjawab dari bapak. Sepagi itu biasa, baik aku atau pun bapak, saling berkabar. Biasa juga apabila tidak terjawab. Karena keduanya sudah larut dalam pekerjaan masing-masing. Apabila ada panggilan tak terjawab, kami sudah mahfum. (lebih…)

Toleransi

Seorang pimpinan perusahaan berpesan kepada saya, “Nanti ketika lebaran, tanggal 6-7 perusahaan akan tetap bekerja. Mekanik pagi cukup cek-cek unit, kalau tidak ada masalah silahkan kalau mau menunaikan shalat ied,” kata bapak itu sambil memasukkan kacang ke dalam mulutnya. “Tolong kamu sampaikan ke mekanik ya,” lanjutnya.

Mendengar itu, saya sedikit bingung dan kaget. Pasalnya, baru beberapa hari yang lalu dia berpesan kepada saya, bahwasannya perusahaan akan menyetop produksi dua hari selama lebaran. Kabar beberapa hari itu tentu melegakan bagi kawan-kawan saya yang tidak mendapat jatah cuti. Karena meskipun tidak mendapat jatah cuti, mereka akan tetap bisa pulang ke rumah masing-masing selama dua hari dengan cara meminta izin. (lebih…)